Rabu, 01 Maret 2017

TEORI PENGKONDISIAN KLASIK



A. Definisi dan Contoh Teori Pengkondisian Klasik
Teori conditioning ataucontiguity menekankan bahwa belajar terdiri atas pembangkitan respons dengan stimulus yang pada mulanya bersifat netral atau tidak memadai. Melalui persinggungan (contiguity) stimulus dengan respons, stimulus yang tidak memadai untuk menimbulkan respons tadi akhirnya mampu menimbulkan respons (Hamalik, 1992).
Menurut Muhid, Fauziyah, Balgies, dan Mukhoyyaroh (2013)disebut pengkondisian klasik jika suatu organisme belajar mengasosiasikan hubungan antara dua rangsangan, suatu peristiwa terjadi setelah peristiwa lain. Organisme belajar bahwa dua stimulus cenderung berjalan bersama-sama.
Menurut Davidoff (1981) pengkondisian klasik atau pengkondisian responden ialah sebuah respons yang dapat dialihkan dari satu situasi ke situasi lain dengan melalui suatu prosedur. Melonjak karena terkejut, merupakan suatu respons yang umum terjadi bila kita mendadak mendengar suara guntur. Respons ini seringkali dengan cepat dialihkan atau dikaitkan dengan pemandangan yang terjadi sebelum guntur, yaitu kilatan cahaya.
Agar pengkondisian klasik menjadi efektif, stimulus yang akan terkondisi sebaiknya mendahului stimulus yang tidak terkondisi dan bukan ditampilkan setelahnya atau pada saat yang bersamaan. Hal ini masuk akal karena dalam pengkondisian klasik, stimulus yang terkondisi menjadi sebuah sinyal pertanda munculnya stimulus yang tak terkondisi. Pengkondisian klasik malah merupakan adaptasi yang evolusioner, sehingga memungkinkan organisme untuk mengantisipasi dan mempersiapkan diri terhadap kejadian biologis penting yang akan terjadi (Wade dan Tavris, 2007).
Contoh lain adalah ketika seorang ayah membawa bayinya keluar rumah untuk berjalan-jalan. Bayi itu mencoba menyentuh sebuah bunga berwarna merah jambu, dan disengat oleh seekor lebah yang sedang hinggap di kelopak bunga tersebut. Keesokan harinya, ibu bayi tersebut membawa bunga merah jambu. Kemudian ia mengambil sekuntum bunga dan memberikannya kepada bayinya untuk dicium. Sang bayi menangis dengan kencang setelah melihat bunga berwarna merah jambu itu. Kepanikan sang bayi ketika melihat bungamerah berwarna merah jambu menggambarkan sebuah sebuah proses pembelajaran yang disebut pengkondisian klasik ( classial conditioning ). Dalam proses belajar ini, rangsangan netral (bunga) diasosiasikan dengan rangsangan lain yang bermakna (rasa sakit sengatan lebah ). Kehadiran bunga saja memiliki kemampuan untuk menghasilkan respons yang sama seperti ketika betul-betul ada sengatan lebah (King, 2010).
Pengkondisian klasik telah digunakan pula untuk menyelidiki proses belajar yang terjadi pada bayi berumur 5-7 hari. Bila hembusan udara ditiupkan pada mata, respon yang lazim adalah mengedipkan mata. Bila suatu nada dibunyikan segera sebelum hembusan udara, bayi tersebut akan belajar mengasosiasikan nada dengan hembusan udara dan mengedipkan matanya pada waktu mendengarkan nada saja. Prosedur ini bermanfaat untuk meyelidiki proses belajar pada bayi yang sangat muda usia(Atkinson, Atkinson, dan Hilgard, 1983).

B. Eksperimen Ivan Pavlov tentang Teori Pengkondisian Klasik
Pada awal tahun 1900-an, seorang ahli fisiologi bernama Ivan Pavlov dari Rusia, tertarik untuk meneliti bagaimana tubuh mencerna makanan. Dalam eksperimen penelitianya. Ia secara rutin meletakkan bubuk daging dan mulut seekor anjing, yang menyebabakan anjing tersebut mengeluarkan air liur. Anjing ini ternyata mengeluarkan air liur sebagai respons dari beberapa rangsangan yang berkaitan dengan makanan. Pavlov  menyadari bahwa asosiasi antara penglihatan dan pendengaran dengan makanan merupakan jenis belajar yang sangat penting, yang kemudian dikenal dengan nama pengkondisian klasik. Komponen yang tidak dipelajari dari pengkondisian klasik didasarkan pada bahwa perilaku anjing meliputi komponen yang di pelajari dan tidak dipelajari. Komponen yang tidak dipelajari dari pengkondisian klasik didasarkan pada bahwa beberapa rangsangan secara otomatis menghasilkan respons tertentu, terlepas dari pembelajaran sebelumnya, dengan kata lain, respons-respons ini merupakan respons yang alami atau bawaan sejak lahir. Gerakan refleks merupakan gerakan yang mewakili hubungan otomatis antara rangsangan dan respons (King, 2010).
Pada eksperimennya, Pavlov memasang sebuah selang pada kelenjar liur seekor anjing untuk mengukut jumlah produksi air liur anjing tersebut. Ia kemudian membunyikan sebuah bel dan setelah beberapa saat kemudian, Pavlov memberikan makanan kepada anjing tersebut beberapa kali dan direncanakan dengan sangat hati-hati. Pada awalnya, anjing tersebut akan mengeluarkan air liur ketika makanan telah dimunculkan. Tidak lama kemudian, anjing tersebut mengeluarkan air liur ketika mendengar suara bel. Bahkan, ketika Pavlov menghentikan pemberian makanan, anjing tersebut masih mengeluarkan air liur setelah mendengar suaara bel. Anjing tersebut telah mengalami pengkondisian klasik dalam mengeluarkan air liur setelah mendengar bel (Atkinson, dkk, 1983).
C. Proses Terjadinya Pengkondisian Klasik
Menurut Davidoff (1981) ada empat elemen yang terlibat dalam teori pengkondisian klasik, yaitu:
1.      Elemen pertama dinamakan stimulus tak bersyarat atau UCS (Unconditioned Stimulus), adalah suatu rangsangan pencetus yang menghasilkan respons secara otomatis. Contoh yang paling mudah adalah ketika apabila di dalam mulut terdapat makanan maka akan merangsang keluarnya air liur, baik pada hewan maupun manusia.
2.      Suatu rangsangan terkondisikan atau CS(Conditioned Response), adalah suatu kejadian, obyek, atau pengalaman yang tidak memancing munculnya respons tak bersyarat pada permulaannya. Rangsangan netral ini harus dipasangkan dengan rangsangan tak bersyarat. Umpamakan saja bahwa sebuah bel akan berbunyi di siang hari beberapa detik sebelum anjing memakan makanannya. Suara bel itu merupakan satu rangsangan netral karena pada permulaannya tidak memancing keluarnya air liur.
3.      Respons tak bersyarat atau UCR (Unconditioned Response), merupakan suatu respons yang secara otomatis akan muncul akibat adanya rangsangan tak bersyarat (US) dalam contoh di atas adalah keluarnya air liur.
4.      Setelah rangsangan netral itu dipasangkan dengan rangsangan tak bersyarat, maka rangsangan netral tadi akan dapat memancing pula respons yang sama dengan respons tak bersyarat, yang dinamakan respons bersyarat atau CR (Conditioned Response). Respons bersyarat ini biasanya tidak selengkap respons tak bersyarat dan lebih ringan. Sebagai contoh, bila suara bel selalu terdengar sebelum adanya makanan, maka bunyi dering itu sendiri sudah akan dapat menimbulkan keluarnya air liur.
D. Prinsip-prinsip Teori Pengkondisian Klasik
Beberapa prinsip yang digunakan dalam teori pengkondisian, baik klasik maupun operan, antara lain (King, 2010) :
1.   Akuisisi
Dalam pengkondisian klasik ini merupakan pembelajaran awal dari hubungan antara rangsangan-respons. Pembelajaran ini meliputi sebuah rangsangan netral yang diasosiasikan dengan UCS, dan kemudian menjadi rangsangan yang dikondisikan (CS) yang menghasilkan CR. Dua hal penting dalam proses akuisi adalah waktu dan kemungkinan / prediktabilitas.
Selang waktu antara CS dan UCS merupakan salah satu hal penting dalam pengkondisian klasik. Selang waktu tersebut menggambarkan kesinambungan  atau keterhubungan ransangan dalam ruang dan waktu. Respons yang dikondisikan terbentuk ketika CS dan UCS saling berlanjut, muncul secara dekat atau hampir bersamaan. Sering kali, jarak waktu yang optimal antara CS-UCS hanyalah sepersekian detik. Dalam eksperimen Pavlov, jika bel berbunyi 20 menit setelah makanan diperlihatkan, maka anjing tersebut mungkin tidak akan mengasosiasikan bek dengan makanan. 
Rescorla(1928 dalam King, 2010)menyakini bahwa agar sebuah pengondisian klasik terjadi, tidak hanya dibutuhkan selang waktu singkat antara CS-UCS, namun juga dibutuhkan suatu kemungkinan. Kemungkinan (contingency) dalam pengondisian klasik memiliki arti kemunculan satu rangsangan di ikuti dengan rangsangan yang lain dapat diramalkan. Pada contoh sebelumnya, cahaya kilat, biasanya di ikuti dengan bunyi gemuruh halilintar. Hal ini membuat kita menutup telinga kita saat melihat cahaya kilat, sebagai antisipasi datangnya bunyi gemuruh halilintar.
2. Generalisasi dan Diskriminasi
Pavlov menemukan bahwa anjing mengeluarkan air liur tidak hanya disebabkan oleh bunyi bel, tetapi juga dapat disebabkan oleh bunyi lain, seperti bunyi siulan.Generalisasi (generalization)dalam pengondisian klasik merupakan kecenderungan sebuah rangsangan baru yang mirip dengan rangsangan yang kondisikan asli, menghasilakn respons yang sama dengan respons yang dikondisikan.
Generalisasi rangsangan tidak slalu bersifat menguntungkan. Contohnya, seekor kucing yang menggeneralisasikan bahwa ikan kecil tidak berbahaya, akan menemui masalah ketika bertemu dengan ikan piranha.
Diskriminasi (diskriminasi) dalam pengondisian klasik merupakan sebuah proses belajar untuk merespons beberapa rangsangan  tertentu dan tidak merespons yang lain (King, 2010).
3. Pelenyapan dan Pemulihan Secara Spontan
Setelah mengkondisikan seekor anjing untuk mengeluarkan air liur ketika mendengar bunyi bel, Pavlov membunyikan bel berulang-ulang dalam suatu sesi dan tidak memberikan makanan sama sekali. Hasilnya adalah Pelenyapan, saat dalam pengondisian klasik yang berarti melemahnya respons yang dikondisikan disebabkan oleh hilangnya rangsangan yang tidak dikondisikan.
Pelenyapan tidak selalu berarti berakhirnya respons yang dikondisikan. Keesokan harinya, setelah Pavlov menghilangkan air liur sebagai respons yang dikondisikan dari bunyi bel, Pavlov membawa anjing tersebut ke laboratorium dan membunyikan bel, namun tetap tanpa memberikan bubuk daging. Anjing tersebut mengeluarkan air liur, menandakan bahwa respons yang sebelumnya telah punah dapat secara spontan muncul kembali. Pemulihan spontan (spontaneous recovery) adalah proses pengondisian klasik saat respons yang dikondisikan kembali dapat muncul setelah ada jeda waktu beberapa saat tanpa dilakukannya pengondisian lebih lanjut (King, 2010).
Untuk memperkuat pemahaman anda mengenai akuisisi, generalisasi, diskriminsasi, dan pelenyapan dalam pengondisian klasik, berikut ini adalah contoh bagaimana konsep-konsep diatas terefleksikan dari pengalaman seorang anak yang pergi ke dokter gigi (Atkinson, dkk, 1983): 
1.      Akuisisi: Seorang anak  belajar untuk takut (CR) pergi ke ruang dokter gigi, dengan mwngasosikan kunjungan tersebut dengan respons emosional yang tidak dipelajari (UCR) terhadap rasa sakit ketika mengalami pembersihan karang gigi (UCS).
2.      Generalisasi: Anak tersebut takut terhadap semua ruangan dokter gigi dan tempat-tempat yang mirip, termasuk ruang dokter umum dan orang dewasa didalamnya yang memakai pakaian medis berwarna putih, yang memiliki bau-bau dan bunyi-bunyian tertentu.
3.      Diskriminasi: Anak tersebut pergi ke ruang dokter yang merupakan dokter Ibunya, dan belajar bahwa tidak ada asosiasi rung tersebut dengan rasa sakit dari UCS.
4.      Pelenyapan: Anak tersebut dari waktu ke waktu pergi ke dokter gigi beberapa kali dan tidak memiliki pengalaman menyakitkan, sehingga rasa takut anak tersebut terhadap ruangan dokter gigi hilang, setidaknya untuk sementara, sampi anak tersebut mengalami pengalaman menyakitkan lagi ketika karang gigimya diberi perawatan.
E. Kesimpulan
Teori conditioning ataucontiguity menekankan bahwa belajar terdiri atas pembangkitan respons dengan stimulus yang pada mulanya bersifat netral atau tidak memadai. Melalui persinggungan (contiguity) stimulus dengan respons, stimulus yang tidak memadai untuk menimbulkan respons tadi akhirnya mampu menimbulkan respons.
Dalam proses pembelajaran menurut teori pengondisian, terdapat teori pengkondisian klasik. Teori ini menekankan bahwa suatu organisme belajar mengasosiasikan hubungan antara dua rangsangan, suatu peristiwa terjadi setelah peristiwa lain. Sementara prinsip-prinsip teori pengkondisian antar lain: akuisisi, generalisasi, diskriminisasi, dan pelenyapan dalam pengondisian klasik.



DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, R.L., Atkinson, R.C., dan Hilgard E.C. (1983). Pengantar Psikologi. Jakarta: Erlangga
Davidoff, L.L.(1981). Psikologi: Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga
Hamalik, O.(1992). Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Muhid, A., Fauziyah, N., Balgies, S., dan Mukhoyyaroh, T.(2013). Psikologi Umum. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press
Wade, C., dan Tavris, C. (2007).Psikologi: Edisi Ke-9. Jakarta: Erlangga

PANDANGAN HIDUP, TANGGUNG JAWAB, DAN HARAPAN



BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Pandangan Hidup
Pandangan hidup merupakan suatu dasar atau landasan untuk membimbing kehidupan jasmani dan rohani. Pandangan hidup ini sangat bermanfaat bagi kehidupan individu, masyarakat, atau negara. Semua perbuatan tingkah laku dan aturan serta undang harus merupakan pancaran dari pandangan yang telah dirumuskan.
Pandangan hiudp sering disebut filsafat hidup. Filsafat berarti cinta atau kebenaran, sedangkan kebenaran dapat dicapai oleh siapa saja. Hal inilah yang mengakibatkan pandangan hidup itu perlu dimiliki oleh semua orang dan semua golongan.
     Setiap orang, baik dari tingkatan yang paling rendh sampai dengan yang paling tinggi, mempunyai cita-cita hidup. Hanya kadar cita-citanya sajalah yang berbeda. Bagi orang yang kurang kuat imannya ataupun kurang luas wawasannya, apabila gagal mencapai cita-cita, tindakannya biasanya mengarah pada hal-hal yang bersifat negatif.
Disinilah peranan pandangan hidup seseorang. Pandangan hidup yang teguh merupakan pelindung seseorang. Dengn memegang teguh pandangan hidup yang diyakini, seseorang tidak akan bertindak sesuka hatinya. Ia tidak akan gegabah bila menghadapi masalah, hambatan, tantangan dan gangguan serta kesulitan yang dihadapinya.
Biasanya orang akan selalu ingat, taat, kepada Sang Pencipta bila sedang dirundung kesusahan. Namun, bila sedang dalam keadaan senang, bahagia, serta kecuukupan, mereka lupa akan pandangan hidup yang diikutinya, berkurang rasa pengabdiannya kepada Sang Pencipta. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
1.      Kurangnya penghayatan pandangan hidup yang diyakini;
2.      Kurangnya keyakinan pandangan hidup;
3.      Kurang memahami nilai dan tuntutan yang terkandung dalam pandangan hidupnya
4.      Kurang mampu mengatasi keadaan sehingga lupa pada tuntutan hidup yang ada pada pandangan hidupnya;
5.      Atau sengaja melupakannya demi kebutuhan diri sendiri. (Habib Mustopo, 1986)

Cita-cita tidak sama dengan pandangan hidup. Sekalipun demikian, cita-cita erat sekali kaitannyadengan pandangan hidup. Pandangan merupakan bagian hidup manusia yang dapat mencerminkan citra individu maupun masyarakat. Selain itu juga mencerminkan serta cita-cita atau aspirasi seseorang dan sekelompok orang msyarakat.
Pandangan hidup merupakan sesuatu yang sulit dikatakan, sebab kadang-kadang pandangan hidup hanya merupakan suatu idealisme belaka yang mengikuti kebiasaan berpikir di dalam masyarakat. Manuel Kaisiepo (1982) dan Abdurrahman Wahid (1985) berpendapat bahwa pandangan hidup itu bersifat elastis. Maksudnya bergantung pada situasi dan kondisi serta ridak selamanya bersifat positif.
Pandangan hidup yang sudah diterima oleh sekelompok orang digunakan sebagai pendukung suatu organisasi disebut ideologi. Pandangan hidup dapat menjadi pegangan, bimbingan, tuntutan seseoranga maupun masyarakat dalam menempuh jalan hidupnya menuju tujun akhir.
B.       Tanggung jawab
Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya. Tanggung jawab juga berarti sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.
Seorang mahasiswa, berkewajiban untuk belajar. Bila belajar, berarti ia telah memenuhi kewajibannya dan ia telah bertanggungjawab atas kewajibannya.
Menurut sifat dasarnya, manusia adalah makhluk bermoral, tetapi manusia juga seorang pribadi. Karena merupakan seorang pribadi, manusia mempunyai pendapat sendiri, perasaan sendir, angan-angan untuk berbuat atau bertindak. Dalam hal ini, manusia tidak luput dari kesalahan, kekeliruan, baik yang disengaja maupun tidak. Namun ia harus bertanggung jawab atas diri pribadi. Berikut adalah macam-macam tanggung jawab.
a.    Tanggung jawab kepada keluarga
Masyarakat terkecil ialh keluarga, yang terdiri atas ayah-ibu dan anak. tiap anggota keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarganya yang menyangkut nama baik keluarganya. Tanggung jawab ini mencakup kesejahteraan, keselamatan, pendidikan, dan kehidupan.
b.    Tanggung jawab kepada masyarakat
Manusia adalah makhluk sosial. Manusia merupakan anggota masyarakat. Karena itu, dalam berpikir, berperilaku, berbicara, dan sebagainya, manusia terikat oleh masyarakat. Wajarlah apabila segala tingkah laku dan perbuatannya harus dipertanggungjawaabkan kepada masyarakat.
c.    Tanggung jawab kepada bangsa/negara
Setiap manusia, setiap individual merupakan warga suatu negara. Dalam berpikir, berbuat, bertindak, bertingkah laku, ia etrikat oleh norma-norma atau ukuran-ukuran yang dibuat oleh negara. Ia tidak boleh bertindak semaunya sendiri. Bila perbuatannya salah, ia harus bertanggung jawab kepada negara.
d.    Tanggung jawab kepada Tuhan
Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan. Sebagai ciptaan Tuhan, manusia dapat mengembalikan diri sendiri serta dengan sarana yang ada pada dirinya sendiri, yaitu pikiran, perasaan, seluruh anggota tubuhnya, dan alam sekitarnya.
Bila manusia tidak bekerja keras untuk kelangsungn hidupnya, segala akibatny harus dipikul sendiri. Penderitaan akibat kelalaian adalah tanggung jawabnya. Meskipun manusia menutupi perbuatannya yang salah dengan segala misalnya dengan hartanya, kekuasaanya atau kekuatannya (ancaman), ia tak dapat lepas dari tanggung jawabnya kepada Tuhan.

C.      Harapan 
Harapan berasal dari kata harap, artinya keinginan terjadinya sesuatu. Yang mempunyai harapan atau keinginan itu hati. Putus harapan putus pula hati manusia.
Harapan artinya keinginan yang belum terwujud. Setiap orang mempunyai harapan. Tanpa harapan manusia tidak ada artinya. Manusia yang tak mempunyai harapan berarti tidak dapat diharapkan lagi. menurut kodratnya dalam diri manusia ada dorongan, yakni dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup. Dorongan kodrat itu ialah menangis, tertawa, berpikir, berkata, dan sebagainya. Adapun dorongan kebutuhan hidup adalah dorongan untuk mencapai.
Kebutuhan jasmani dan rohani. Kebutuhan jasmani ialah pangan, sandang, dan papan, sedangkan kebutuhan rohani meliputi kebahagiaan, kesejahteraan, kepuasaan, hiburan, dan sebagainya.
Abraham Maslow mengategorikan kebutuhan manusia menjadi lima macam, yang merupakn lima harapan manusia, yaitu:
1.       Harapan untuk memperoleh kelangsungan hidup (survival).
2.       Harapan untuk memperoleh keamanan (safety).
3.       Harapan untuk memiliki hak dan kewajiban untuk mencintai dan dicintai (beloving and love).
4.       Harapan memperoleh status atau untuk diterima atau diakui lingkungan.
5.       Harapan untuk memperoleh perwujudan dan cita-cita (self-actualization).

BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Pandangan hidup merupakan bagaimana cara manusia memandang kehidupannya. Setiap orang memiliki pandangan hidup yang berbeda-beda dan menciptakan suatu paham. Wujud pandangan hidup manusia berkaitan dengan cita-cita, kebajikan, dan sikap hidup. Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya. Tanggung jawab juga dapat diartikan sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya. Sementara harapan adalah keinginan akan terjadinya sesuatu. Hati lah yang memiliki suatu keinginan tersebut. Apabila putus harapan, maka putus lah hati manusia tersebut.
B.  Saran
Alhamdulillah, akhirnya pembuatan makalah ini dapat terselesaikan dengan baik, berkat bimbingan Dosen Pengampu serta dukungan teman-teman semua. Kami menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Untuk itu, kami mengharap kritik dan saran dari berbagai pihak, demi kesempurnaan makalah ini. Akhirnya, dengan segala kekurangan dan keterbatasannya, kami ucapkan terima kasih.

MAKALAH PENDEKATAN STUDI ISLAM



BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Secara teoritis Islam adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan tuhan kepada manusia melalui Muhammad sebagai Rasul. Islam pada hakikatnya membawa ajaran yang bukan hanya mengenai berbagai segi dari kehidupan manusia. Sumber ajaran yang mengambiul berbagai aspek adalah Al-Qur’an dan Hadist.
Sumber-sumber ajaran Islam yang merupakan bagian pilar penting kajian Islam dimunculkan agar dikursuskan dan paradigma keislaman tidak keluar dari sumber aslinya, yaitu Al-Qur’an.
Selain itu pokok-pokok ajaran Islam dan sejarh realitas pelaksanaannya merupakan bagian yang perlu dikaji. Dalam kajian ini diperlukan beberapa pendekatan studi Islam sehingga pemahaman tentang studi Islam dapat dengan mudah tercapai. Pemahaman itu perlu didekati dengan berbagai dimensi, di antaranya mengenai makna tentang Islam.

  1. Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan pendekatan studi Islam?
2.      Apa saja pendekatan dalam studi Islam?
3.      Bagaimana analisis dari pendekatan tersebut?

  1. Tujuan
1.      Untuk mengetahui definisi pendekatan studi Islam.
2.      Untuk mengetahui macam-macam pendekatan studi Islam.
3.      Untuk mengetahui analisis dari pembahasan pendekatan studi Islam.






BAB II
PEMBAHASAN

  1. Pengertian Pendekatan Studi Islam
Pendekatan adalah suatu cara kerja untuk memudahkan pendidik/warga belajar agar peserta didik atau warga belajar ingin belajar untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Pendekatan adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama (Uicha, 2011). Pendekatan studi Islam adalah suatu cara kerja untuk memudahkan seseorang mengetahui dan mendalami Islam secara luas dan menyeluruh agar tidak muncul pola fikir yang dangkal.

  1. Beberapa Pendekatan Studi Islam
Adapun pendekatan studi Islam, antara lain:
1.             Pendekatan normatif
Normatif adalah peraturan yang mengatur tentang baik buruknya perbuatan berdasarkan norma yang berlaku. Norma adalah aturan yang berlaku di kehidupan bermasyarakat yang bertujuan untuk mencapai kehidupan masyarakat yang aman, tertib dan sentosa.Menurut Lubis (2011) Pendekatan normatif adalah sebuah pendekatan yang lebih menekankan aspek norma-norma dalam ajaran Islam sebagaimana terdapat dalam Alqur’an dan Sunnah. Pendekatan normatif diklasifikasikan menjadi tiga: Missionaris tradisional Yaitu pendekatan yang bertujuan merubah suatu masyarakat agar masuk agama tertentu diserta penyakinan akan pentingnya peradaban missionaris, seperti yang dilakukan oleh Belanda dengan menjajah Indonesia, mereka tidak hanya meyakinkan betapa kuatnya perabadaban yang mereka miliki, tetapi juga menyebarkan agamanya yaitu Agama Kristen.
Apologetik Pendekatan yang bertujuan untuk menguatkan keimanan suatu kaum yang terlindas arus modernitas agar bangkit dan percaya diri dengan identitas keislamannya. Irenic Pendekatan yang dilakukan untuk menyatukan non muslim yang berorientasi negatif tentang orang muslim, dengan Muslim yang berorientasi menyimpang. Supaya tercapai perdamaian bangsa dan hilangnya prasangka, perlawanan dan saling menghina.

2.               Pendekatan Antropologis
 Antropologi berasal dari Bahasa Yunani ”anthropos” artinya manusia/orang, dan ”logos” yang berarti wacana. Menurut ilmutuhan.com (2011), antropolgi adalah ilmu yang membahas tentang manusia, khususnya tentang asal usul, aneka warna, bentuk fisik, adat istiadat dan kepercayaan masa lampau. Antropologis adalah adalah ilmu yang mempelajari tentang segala aspek dari manusia terdiri dari aspek fisik dan non fisik dan berbagai pengetahuan tentang kehidupan lainnya yang bermanfaat. Pendekatan antropologis adalah salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Kajian antropologi dibagi empat, yaitu:
 a. Intelektualisme, yaitu mempelajari agama dari sudut pandang intelektual yang mencoba melihat definisi agama dalam setiap masyarakat, kemudian melihat perkembangannya (religius development) dalam suatu masyarakat. E.B. Taylor mengemukakan bahwa agama sebagai kepercayaan terhadap adanya kekuatan supernatural.
b.   Strukturalis
c.   Fungsionalis
d  Malinowski bertujuan mengetahui titik pandang pemikiran masayarakat sederhana dan hubungannya dengan kehidupan serta mengatakan pandangan-pandangan mereka tentang dunia. liran historis EE Evans Pritchard dalam penelitiannya mengatkan bahwa aliran historis adalah membandingkan struktur masyarakat dan kebudayaan yang berbeda. liran struktural Claude Levi Strauss mengemukakan bahwa.  Simbolis Ketiga teori ini dikembangkan Emile Durkheim, mengilhami banyak orang dalam melihat agama dari sisi yang sangat sederhana sekaligus menggabungkannya secara struktur. Objek antropologi agama ada empat, yaitu: odus pemikiran primitif, omunikasi, seperti simbol dan mite, eori dan praktik keagamaan, Praktik ritual sampingan seperti magic. Sedangkan aliran antropologi agama terdiri dari: liran fungsional Penelitian Brosnilaw Kacper bahasa dan mite menggambaerkan kaitan antara alam dengan budaya dan hubungan antara alam dan budaya itu ditemukan hukum-hukum pemikiran masyarakat yang diteliti.

3.         Pendekatan Sosiologis
Sosiologi berasal dari Bahasa Latin ”socius” artinya teman/kawan, dan ”logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Sosiologi juga dikenal sebagai ilmu pengetahuan tentang masyarakat. Menurut Bapak Sosiologi Indonesia yaitu Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari strukrtur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial.Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial yakni mengandung cara-cara bertindak, berfikir, berperasaan yang berada di luar individu (Durkheim, 1970). Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang membatasi diri terhadap persoalan penilaian (Soekarno, 2006).
 Pendekatan sosiologi adalah salah satu upaya memahami agama dengan cara meningkatkan kemampuan manusia untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan lingkungan sosialnya agar pola fikir berkembang dan akan mengalami evolusi yang menyebabkan perubahan sosial masyarakat baru dan akan tercipta tingkat integrasi lebih besar. Agama lebih memperhatikan bidang sosial (Rahmat, 2006), hal ini dapat kita lihat jelas di dalam Al Quran dan Hadist bahawa perbandingan ayat ibadah dengan muamalah (masalah sosial) adalah 1:100, dan sholat berjamaah lebih baik dari pada sendiri (1:27).

4. Pendekatan Teologis
Teologi merupakan cabang filsafat yang mempelajari pengetahuan tentang hakekat Tuhan serta keberadaanya. Teologi berasal dari Bahasa Yunani, ”Theos” yang berarti Allah (Tuhan) dan ”logis” yang artinya ilmu. Teologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan beragama atau ilmu yang mempelajari tentang Tuhan. Teologi adalah pembahasan materi tentang eksistensi Tuhan dan tuhan-tuhan dalam dalam sebuah konsep nilai-nilai ketuhanan yang terkontruksi dengan baik sehingga pada akhirnya menjadi sebuah agama/aliran kepercayaan.
Pendekatan teologis dibagi menjadi tiga: Teologi Normatif/Apologis Pendekatan Teologi Normatif adalah sebuah upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang menimbulkan keyakinan bahwa agama yang dianutnya dianggap paling benar dibandingkan yang lain. Teologi Dialogis Pendekatan Teologi Dialogis adalah mengkaji agama tertentu dengan menggunakan perspektif agama lain. Teologi ini bertolak dari perspektif teologi kristen. Bahkan banyak digunakan orientalis dalam mengkaji Islam. Teologi Konvergensi Pendekatan Teologi Konvergensi adalah metode pendekatan terhadap agama dengan melihat unsur-unsur persamaan dari masing-masing agama/aliran, untuk mempersatukan unsur esensial dalam agama-agama sehingga tidak nampak perbedaan yang esensial.

5.  Pendekatan fenomenologis
Fenomenologi adalah sebuah studi Islam dalam bidang filsafat yang mempelajari manusia sebagai sebuah fenomena. Pendekatan fenomenologi merupakan pendekatan agama dengan cara membandingkan berbagai macam gejala dari bidang yang sama antara berbagai macam agama (Dhavamony, 1995). Tokoh fenomenologi adalah Edmund Hussert dan Alfred Schulta, mereka mengungkapkan bahwa ”Diam merupakan tindakan untuk mengungkapkan pengertian sesuatu yang sedang diteliti, dengan diam akan mengetahui perilaku orang lebih lanjut”.
Tujuan fenomenologi: Menginterprestasikan suatu teks berkenaan dengan persoalan agama dengan setepat-tepatnya. Merekonstruksi suatu kompleks tempat suci kuno/menerangkan permasalahan suatu cerita dari mitos. Memahami struktur dan organisasi dari suatu kelompok masyarakat religius dengan kehidupan sekitar.

6.    Pendekatan filosofis
Kata filosofis berasal dari kata filsafat, dari Bahasa Yunani yaitu ”pilos” yang artinya cinta kepada kebenaran, ilmu dan hikmah. Filsafat adalah berfikir secara mendalam, sistematik, radikal dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti, hikmah atau hakikat mengenai segala sesuatu yang ada (Galzaba, 1973).
Menurut Purwadarmita (1999), filsafat sebagai pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenal sebab- sebab, asas-asas hukum dsb terhadap sesuatu yang ada di alam semesta ataupun mengenai kebenaran dan arti adanya sesuatu. Dari pendapat tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan filosofis (arti sematik) merupakan studi proses tentang kependidikan yang didasari dengan nilai-nilai ajaran Islam menurut konsep cinta terhadap kebenaran, ilmu dan hikmah yang bersumber dari Al Quran dan Hadist. Pendekatan filosofis (arti praktis) adalah suatu pendekatan yang penilaiannya berdasarkan akal (rasional). Ukuran benar dan salahnya ditentukan dengan penilaian akal, apakah bisa diterima oleh akal atau tidak.

7. Pendekatan Historis (sejarah)
Historis adalah suatu ilmu yang membahas berbagai peristiwa dengan menggunakan unsur-unsur tempat, waktu, objek, latar belakang dan perilaku dari peristiwa tersebut. Pendekatan historis adalah salah satu upaya memahami agama dengan menumbuhkan perenungan untuk memperoleh hikmah dengan cara mempelajari sejarah nilai-nilai Islam yang berisikan kisah dan perumpamaan. Al Quran terdiri dari dua bagian yaitu tentang konsep- konsep dan kisah sejarah perumpamaan. Dari sejarah perumpamaan inilah seseorang bisa mengambil hikmah.

8. Pendekatan politis
Teori politik normatif adalah cara untuk membahas lembaga sosial, khususnya berhubungan dengan kekuasaan publik, dan tentang hubungan antar individu di dalam lembaga politik disebut juga sebagai moral/etika. Perlawanan menghadapi penjajah merupakan pergerakan politik Islam yang kemudian menjadi pembentukan negara Indonesia.
 Pendekatan politis adalah salah satu upaya memahami agama dengan cara menanamkan nilai-nilai agama pada lembaga sosial agar timbul motivasi/keinginan untuk meraih kebahagiaan dan kesejahteraan serta perdamaian pada masyarakat. Pendekatan politis dibagi menjadi lima, yaitu:
a.       Pendekatan politis dekonfessionalisasi Secara garis besar, untuk menyatukan perbedaan antara kelompok dan memelihara hubungan politik bersama dalam sebuah negara, seluruh identitas keyakinan simbol- simbol kelompok harus bisa ditinggalkan untuk sementara waktu dalam rangka mencapai suatu kesatuan dan kebersamaan yang lebih besar (Grms, 2008).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perdekatan politis De konfessionalisasi adalah pendekatan/ usaha dengan meningglakan seluruh identitas keyakinan yang berupa simbol dalam sementara waktu untuk menyatukan perbedaan antar kelompok dan memelihara hubungan politik besama dalam sebuah negara agar tercapai suatu kesatuan dan keberdsamaan yang lebih besar. Pancasila sebagai ideologi yang digunakan Bangsa Indonesia untuk menjadikan bernegara (Nieuwenhujze, 1958) , dari situ bukan berarti Islam kalah dengan pancasila tetapi di dalam pancasila tersimpan nilai-nilai Islam yaitu keesaan Tuhan, demokrasi, keadilan sosial dan kemanusiaan.
b.      Pendekatan politis domestikasi Islam Teori ini menggambarkan hebatnya Islam berkembang di Indonesia tetapi lumpuh karena didominasi kekuatan lokal. Menurut Harry J. Benda dalam Daniel Dokhada, berpandangan bahwa bangkitnya Mataram Islam sebenarnya adalah kekuatan Hindu Jawa bukanlah Islam itu sendiri.
c.       Pendekatan politik skismatik aliran Teori ini dikembangkan oleh Robert Jay dan Clifford Goerta. Pendekatan skismatik memberikan gambaran tentang adanya realitas kelompok aliran dalam kehidupan sosial, budaya dan politik serta agama dalam masyarakat jawa (Yudiwah, 2011). Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa, kekuatan diluar Islam yang senantiasa menyaingi bahkan menjinakan yaitu kelompok abangan dan priayi.
d.       Pendekatan politik trikotomi Pendekatan ini dikembangkan Allan Samson dalam aliran ini menjelaskan karakteristik Islam tidak dapat dilihat secara tanggal seperti santri yaitu mereka yang tetap mempertahankankan Islam sebagai baris dan norma dalam berpolitiknya. Politik santri dibagi menjadi tiga, yaitu: Fundamentalis, yaitu menetapkan agama dalam aspek kehidupan, termasuk bernegara. Reformis, yaitu menempatkan secara rasional posisi Islam dalam kehidupan politik termasuk membanguin relasi bagi penerapan kepentingan Islam. Akomodisionis, yaitu kelompok santri yang lebih terbuka walau sepintas tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Dari metode gerakan tersebut merupakan langkah terpenting sebagai jalan berfikir/alat negosiasi dalam politik.
e.       Pendekatan politik kultural/diversifikasi Menurut Emmerson (1987), Islam dalam skala kebudayaan memiliki kemenangan yang hebat di Indonesia. Teori ini mengarahkan kembali energi politik umat Islam ke dalam kegiatan non politik. Islam kultural akan memunculkan Islam yang lebih simpatik dan subtantif (Grms, 2008). Dari penjelasan di atas tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kultural menjelaskan islam sebagai kekuatan budaya yang berhasil dalam menakhlukan kekuatan politik.

9. Pendekatan Psikologi
Psikologi berasal dari Bahasa Yunani ”psych” yang berarti jiwa dan ”logis” yang berarti ilmu. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari jiwa(Wundt, 1879). Pendekatan psikologi adalah paradigma cara pandang memahami agama dengan mempelajari jiwa seseorang dengan cara melihat gejala perilaku yang dapaat diamati. Dalam Islam banyak sekali pengambaran batin. Seperti iman, taqwa kepada Allah. Perilaku seseorang dapat dilihat dari sesuatu yang dia yakini. Dengan psikologi, akan diketahui tingkat keagamaan yang dihayati, dipahami dan diamalkan serta sebagai alat untuk memasukkan agama ke dalam jiwa seseorang.

10. Pendekatan interdisipliner
Pendekatan interdisipliner adalah adalah kajian dengan menggunakan sejumlah pendekatan sejumlah pendekatan/sudut pandang dalam studi, misalnya menggunakan pendekatan sosiologis, historis dan normatis secara bersamaan (Uicha, 2011). Dari pendapat tersebut, pendekatan interdisipliner adalah upaya dalam memahami Islam dengan menggunakan sejumlah sudut pandang pendekatan karena dalam teori interdisipliner sangat penting dibanding hanya satu pendekatan saja.
Contoh interdisipliner adalah seperti aborsi, perlu dilacak nash Al Quran dan Sunnah Nabi tentang larangan pembunuhan anak, dan tahap penciptaan manusia dihubungkan teori embriologi. Dari pendekatan interdisiplner akan memunculkan beberapa pendekatan baru dengan catatan: Perkembangan ilmu pengetahuan Adanya penekanan terhadap bidang pendekatan tertentu, dimaksudkan agar mampu memahami ajaran Islam lebih lengkap. Dengan pendekatan interdisipliner akan memunculkan beberapa pendekatan studi Islam yang lain, sebagian besar dipengaruhi studi kawasan. Misalnya: Sastra Islam dan arkeologi Linguistik (bahasa) Sastra (literature) Ekonomi Ilmiah Doktriner Filologi (cinta terhadap kata-kata) Semiotika (makna benda/lambang) Mistis Dll Perkembangan Pendekatan dalam memahami Islam adalah suatu yang wajar. Sebab bila tidak, agama tidak akan mendapatkan perhatian.

C.     Analisis dari sepenggal pembahasan di atas, dapat kita ketahui begitu pentinggnya pendekatan dalam metodologi studi Islam melalui beberapa aspek-aspek, metode-metode, yang mampu berkembang dalam kemajuan ilmu pengetahuan pada zaman modern. Dalam hal ini umat islam harus bisa melakukan gerakan pemikiran untuk mengantisipasi perkembangan dan kemajuan studi Islam. Di sinilah pentingnya menggali ajaran Islam untuk mewujudkan suatu kedamaian, dan kesejahteraan suatu masyarakat dalam berbangsa, dan bernegara.
















BAB III
PENUTUP

  1. Kesimpulan
Pendekatan Metodologi Studi Islam adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Dalam hal ini adalah agama Islam. Islam dapat dilihat dalam beberapa aspek yang sesuai dengan cara pandangnya. Adapun pendekatan studi Islam, antara lain:
1. Pendekatan normatif adalah sebuah pendekatan yang lebih menekankan aspek norma-norma dalam ajaran Islam sebagaimana terdapat dalam Alqur’an dan Sunnah.
2. Pendekatan antropologis adalah salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.
3. Pendekatan sosiologi adalah salah satu upaya memahami agama dengan cara meningkatkan kemampuan manusia untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan lingkungan sosialnya agar pola fikir berkembang dan akan mengalami evolusi yang menyebabkan perubahan sosial masyarakat baru dan akan tercipta tingkat integrasi lebih besar.
4. Pendekatan fenomenologi merupakan pendekatan agama dengan cara membandingkan berbagai macam gaya dari bidang yang sama antara berbagai macam agama
5. Pendekatan teologis adalah sebuah upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang menimbulkan keyakinan agama dianggap paling benar dibandingkan yang lain.
6. Pendekatan fenomenologi merupakan pendekatan agama dengan cara membandingkan berbagai macam gejala dari bidang yang sama antara berbagai macam agama
7. Pendekatan filosofis merupakan studi proses tentang kependidikan yang didasari nilai-nilai filosofis yang bersumber dari Al Quran dan Hadist.
8. Pendekatan politis adalah salah satu upaya memahami agama dengan cara menanamkan nilai-nilai agama pada lembaga sosial agar timbul motivasi/keinginan untuk meraih kebahagiaan dan kesejahteraan serta perdamaian pada masyarakat.
9. Pendekatan psikologi adalah paradigma cara pandang memmahami agama dengan mempelajari jiwa seseorang dengan cara melihat gejala perilaku yang dapaat diamati. Dalam Islam banyak sekali pengambaran batin.
10. Pendekatan interdisipliner adalah upaya dalam memahami Islam dengan menggunakan sejumlah sudut pandang pendekatan.

  1. Saran
Demikian makalah yang berjudul “Beberapa Pendekatan Studi Islam” Penulis buat. Penulis menyadari dalam penyusunan makalah ini banyak kekurangan. Maka, kritik dan saran konstruktif penulis harapkan demi terciptanya makalah yang lebih baik. Semoga makalah ini menjadi motivator dan inspirator bagi kita semua.



















DAFTAR PUSTAKA
Dhavamony, Maria Susai. 1995. Fenomenologi Agama. Yogjakarta: Kanisius.
Durkheim, Emile. 1970. Suatu Studi, Teori, Aplikasi Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Erlangga.
Galzaba. 1973. Sistematika Filsafat. Jakarta: Bulan Bintang.
Rahmat, Jalaluddin. 2006. Islam dan Pluralisme, Akhlaq Al Quran menyikapi Perbedaan. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
Saleh, Ahmad Syukri. 2010. Metodologi Tafsir Al Quran Kontemporer. Jakarta: GP Press.
Tim MKD IAIN Sunan Ampel. 2010. Pengantar Studi Islam. Surabaya: Sunan Ampel Press.